Memahami Tradisi Selamatan & Peringatan Wafat dalam Budaya Jawa
Dalam tradisi Islam Nusantara dan kebudayaan Jawa (Kejawen), peringatan selamatan kematian atau tahlilan diadakan sebagai wujud doa dan penghormatan bagi almarhum/almarhumah. Rangkaian peringatan ini dihitung berdasarkan penanggalan kalender Masehi yang dipadukan dengan perputaran Pasaran Jawa (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon).
Tabel Matriks Peringatan Kematian & Makna Tradisinya
| Istilah Peringatan | Rumus Perhitungan Hari | Makna & Tujuan Peringatan |
|---|---|---|
| Geblag (Hari Wafat) | Hari Ke-1 saat meninggal | Awal pengiriman doa tahlilan dan penghormatan. |
| Nelung Dina | Hari Ke-3 dari wafat | Peringatan doa tahlil hari ketiga. |
| Mitung Dina | Hari Ke-7 dari wafat | Penutupan tahlilan berturut-turut fase pertama. |
| Matang Puluh Dina | Hari Ke-40 dari wafat | Peringatan 40 hari lepasnya ikatan fisik. |
| Nyatus Dina | Hari Ke-100 dari wafat | Peringatan 100 hari menyempurnakan doa. |
| Mendhak Pisan | 1 Tahun Jawa (~354 Hari) | Peringatan genap 1 tahun meninggal dunia. |
| Mendhak Pindho | 2 Tahun Jawa (~708 Hari) | Peringatan genap 2 tahun meninggal dunia. |
| Nyewu (1000 Hari) | Hari Ke-1000 dari wafat | Peringatan puncak akhir selamatan kematian. |
Aturan Perhitungan "Waktu Maghrib" pada Penanggalan Jawa
Sangat penting memperhatikan jam wafat almarhum/almarhumah. Penanggalan Masehi berganti hari pada pukul 00:00 tengah malam, sedangkan kalender tradisional Jawa berganti hari pada saat Matahari Terbenam / Waktu Maghrib (sekitar 18:00 WIB).
Jika seseorang meninggal pada hari Senin pukul 19:30 malam, secara kalender Masehi tanggal tersebut adalah hari Senin. Namun secara Pasaran Jawa, almarhum/almarhumah dihitung sudah memasuki hari Selasa (karena sudah melewati waktu Maghrib).